Lunpia Semarang

Lunpia Semarang

Bila anda ditanya apakah makanan khas dari Semarang, mungkin di benak anda akan muncul kata “Lun­pia” atau “Lumpia” diantara beber­apa makanan lain yang terke­nal di Semarang karena Lun­pia sudah iden­tik den­gan Semarang. Itu­lah salah satu citra yang tergam­bar di benak setiap orang bila menden­gar kata Semarang. “Lun­pia” dan “Semarang” adalah dua buah kata yang sudah sal­ing meny­atu dan tidak bisa dip­isahkan, mirip Romeo Juliet, Sam Pek Eng Tay, Laila Maj­nun serta Lois and Clark.

Lun­pia meru­pakan kuliner khas Semarang yang serupa rol­lade atau risoles, ter­buat dari lem­baran tipis dari tepung gandum/terigu yang dijadikan kulit, digu­nakan seba­gai pem­bungkus isian yang biasanya ter­diri dari rebung (bambu muda), telur dikom­bi­nasi den­gan dag­ing ayam, udang, atau kepit­ing. Lun­pia ter­cipta karena adanya merger, cul­ture fusion, dan (L) cinta antara dua anak manu­sia. Tidak heran bila ham­pir setiap orang menyukai kelezatan makanan yang penuh rasa cinta ini. Dua anak manu­sia itu adalah Tjoa Thay Yoe dan Wasih.

Tjoa Thay Yoe adalah seo­rang pen­datang dari China ke Semarang (diperki­rakan sebelum tahun 1900). Sedan­gkan Wasih adalah pen­duduk lokal. Ked­u­anya bermat­apen­car­ian seba­gai pen­jual makanan di pasar Johar. Makanan yang mereka jual ter­li­hat sama, hanya isinya saja yang berbeda. Wasih men­jual makanan yang berisi udang dan ken­tang, sedan­gkan Tjoa men­jual makanan yang berisi dag­ing babi dan rebung.

Seir­ing den­gan ber­jalan­nya waktu dan mungkin saja karena “wit­ing tresna jalaran saka kulina” (cinta karena ter­biasa) mereka berdua kemu­dian menikah dan melahirkan seo­rang putri yang diberi nama Tjoa Po Nio. Gen­erasi ketu­runan mereka ini­lah yang kemu­dian suk­ses mem­pro­duksi lun­pia di Semarang den­gan berba­gai vari­asi hasil pele­bu­ran budaya dan citarasa China-Jawa yaitu Lun­pia Gang Lom­bok, Lun­pia Pemuda (Mbak Lien), dan Lun­pia Mataram.

Menu­rut berita yang ada, Lun­pia mulai dike­nal oleh masyarakat di Semarang pada waktu dis­e­lang­garakan pesta olahraga GANEFO pada masa pemer­in­ta­han Pres­i­den Soekarno (Novem­ber 1963). Lun­pia yang dibuat oleh gen­erasi ketu­runan Tjoa Thay Yoe & Wasih ini sebe­narnya mem­pun­yai citarasa yang tidak jauh berbeda. Rasanya cen­derung manis dan gurih karena sudah dis­esuaikan den­gan citarasa lokal. Per­si­lan­gan budaya juga tam­pak dari lun­pia itu sendiri. Nama, ben­tuk dan cara memasaknya meru­pakan ciri hidan­gan China, sedan­gkan rasa manis dan orak-arik isi lun­pia meru­pakan ciri khas hidan­gan Jawa.

Di Semarang juga ter­da­pat lunpia-lunpia lain yang dibuat oleh selain dari gen­erasi ketu­runan Tjoa Thay Yoe & Wasih, yaitu Lun­pia Express, Lun­pia Amoy, Lun­pia Depok, dan lunpia-lunpia lain­nya yang dijual di sep­a­n­jang jalan Mataram, Pan­da­naran, Gajah­mada serta Pemuda.

Lun­pia dijual men­jadi dua macam, yaitu lun­pia goreng dan lun­pia basah. Perbe­daan­nya pada lun­pia basah belum dig­oreng (kulit berwarna putih) tetapi isi di dalam­nya sudah matang. Lun­pia basah mungkin lebih cocok bagi yang diet minyak goreng. Baik lun­pia basah atau goreng, ked­u­anya sama-sama nikmat dan lezat.

Lun­pia di Semarang dijual den­gan harga Rp 5.000 — Rp 15.000 untuk satu potongnya. Harga terse­but bervari­asi ter­gan­tung dari besar kecil uku­ran lun­pia dan kom­bi­nasi isinya. Lun­pia Mbak Lien dan Lun­pia Mataram saat ini dijual den­gan harga Rp 8.000/potong sedan­gkan Lun­pia Gang Lom­bok Rp 10.000/potong, sedikit lebih mahal karena Lun­pia Gang Lom­bok beruku­ran cukup besar.

Racikan isi Lun­pia Asli Semarang  sebelum­nya bermacam-macam, bisa memilih hanya lun­pia isi udang, lun­pia isi ayam, dan lun­pia spe­sial berisi cam­pu­ran udang serta ayam. Namun saat ini hanya dijual satu macam saja, yaitu lun­pia berisi kom­bi­nasi rebung, telur, dag­ing ayam, dan udang. Bagi yang tidak menyukai aroma rebung jan­gan khawatir, karena lun­pia asli Semarang memakai rebung muda yang masih segar dan dicuci bersih sehingga tidak berbau. Untuk menam­bah kesegaran dalam menikmatinya, Lun­pia asli Semarang dis­ajikan bersama acar, bawang muda berdaun, dan saus ken­tal manis (ter­buat tepung tapioka dan kecap). Jadi tunggu apa lagi, bagi yang belum per­nah merasakan kelezatan Lun­pia asli Semarang silakan coba dan rasakan kelezatan kuliner asli khas Semarang yang nikmat & lezat­nya ini tidak hanya di lidah saja tapi sam­pai ke hati. :-)

Meskipun saat ini kota Semarang keban­ji­ran kuliner, Lun­pia Semarang akan tetap mele­genda dan berta­han tidak hanyut ter­bawa arus ban­jir kuliner. Rasanya tidak lengkap bila dari Semarang hanya mem­bawa oleh-oleh Ban­deng Presto dan Wingko Babat saja tanpa Lun­pia asli Semarang. Lun­pia Semarang enake, (Y) uueeenak tenan!!!

:-) Lun­pia Gang Lom­bok
(E) Gang Lom­bok No. 11 Semarang (samp­ing Klen­teng Tay Kak Sie)
(T) Telp. 024‑3555 722 / 0816 488 2329
(O) Jam buka 08:00 – 16:00

:-) Lun­pia Mbak Lien
(E) Jl. Pemuda Semarang (mulut Gang Gra­jen)
(T) Telp. 024 – 358 0734 / 024 – 762 0015
(O) Jam buka 09:00 – 21:00 (buka cabang di depan toko oleh-oleh Ban­deng Juwana Jl. Pan­da­naran Semarang)

:-) Lun­pia Mataram
(E) Jl. MT. Hary­ono No. 533A Semarang (seberang bengkel mobil Arvia Jaya)
(T) Telp. 024 – 841 4062
(O) Jam buka 09:00 – 17:00 (Hari Minggu / besar tetap buka)

28. January 2010, 17:17 details & comments (1) Posted in: food Tagged with: , , , , , , , , , , , The permalink address (URI) of this photo is: http://phlog.ahmeddee.com/2010/01/lunpia-semarang/